keterlibatan australia dalam PD I dan II

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam percaturan politik internasional Australia pada masa abad ke-20 khususnya dalam pertahanan dan keamanan masih sangat bergantung pada pemerintah Inggris karena Australia belum memiliki militer yang kuat. Secara bertahap pemerintah Australia mulai memikirkan sistem pertahanan negara karena situasi internasional yang berubah. Di Benua Eropa tiap-tiap negara berlomba-lomba untuk memperkuat militernya dan mencari kawan atau sekutu. Pada umumnya negara-negara Eropa saling berebut wilayah dan pengaruh di negara-negara yang lemah baik secara politik, ekononi, dan militer. Akibat adanya benturan kepentingan konflik pun tidak dapat dihindarkan dan Eropa terjerumus dalam perang. Negara kerajaan Inggris yang dikenal sebagai penguasa lautan dibikin kalang kabut oleh Jerman. Akhirnya Inggris mendatangkan serdadu militer dari Australia. Pelan tapi pasti Australia juga ikut terlibat dalam kancah Perang Dunia I maupun Perang Dunia II. Keterlibatan Australia tersebut  mempunyai implikasi bagi perkembangan Australia dalam percaturan politik internasional.

B. Rumusan Masalah:

1.      Faktor apa saja yang mempengaruhi Ausralia ikut terlibat dalam PD I dan PD II?

2.      Bagaimana bentuk keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II?

3.      Bagaimana dampak keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II ?

C. Tujuan dan manfaat Penulisan

a. Tujuan penulisan

1.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Ausralia ikut terlibat dalam PD I dan PD II

2.      Untuk mengetahui bentuk keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II

3.      Untuk mengetahui dampak keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II

b. Manfaat penulisan

Untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dalam mempelajari sejarah Australia khususnya tentang keterlibatan Australia dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

BAB II

PEMBAHASAN

a. Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Australia Ikut Terlibat dalam PD I dan PD II

Dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi keterlibatan Australia dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II antara lain:

1. Faktor politik

Pada saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II secara politis Australia masih bergantung pada Inggris. Segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah hubungan internasionl masih diatur oleh Inggris. Karena secara politik Australia pada saat Perang Dunia I belum memiliki departemen luar negeri. Baru pada tahun 1935 Australia mendirikan departemen luar negerinya. Akan tetapi  segala kebijakan yang diambil harus dikonsultasikan dengan pemerintah Inggris. Pada saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II meletus di Benua Eropa dan melibatkan negara Inggris maka mau tidak mau Australia secara politik memberikan dukungan sepenuhnya kepada Inggris sebagai bentuk loyalitas kepada negeri Induk.

2. Faktor sejarah dan kultur

Orang- orang Australia dari segi historis tidak dapat dipisahkan dengan negara Inggris, karena mereka kebanyakan berasal dari Inggris. Mereka walaupun sudah hidup di negeri seberang masih tetap mengakui dan menghormati Ratu Inggris sebagai junjungan mereka. Maka segala sesuatu yang mengancam eksistensi negara Inggris maka penduduk Australia mempunyai ikatan emosional yang tinggi terhadap kelangsunya mahkota Inggris.

3. Faktor militer

Dari segi pertahanan dan keamanan Australia masih bergantung pada Angkatan Laut kerajaan Inggris yang dikenal sebagai penguasa lautan. Secara militer peralatan pertahanan dan keamanan masih dijamin oleh Inggris. Pada saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II meletus dan ternyata pada permulaan perang Angkatan Laut kerajaan Inggris berhasil diporak- porandakan oleh militer Jerman yang sudah dipersiapkan lebih awal. Pemerintah Inggris meminta Dominion Australia untuk memobilisasi penduduknya untuk dijadikan serdadu membantu Inggris melawan Jerman dalam perang di Eropa.[1]

b. Bentuk Keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II

1. Keterlibatan Australia dalam PD I

Pada masa Perang Dunia I bentuk keterlibatan Australia hanyalah sebatas penyediaan personil tentara yang dikirimkan ke medan perang yang terjadi di Eropa untuk membantu pasukan kerajaan Inggris yang kewalahan dalam menghadapi pasukan Jerman. Dunia Pada awal Perang I Inggris terlalu menganggap remeh terhadap kekuatan militer Jerman. Angkatan Laut Australia yang didukung oleh 2.000 pasukan menghancurkan pasukan Jerman yang menduduki New Guinea dan akhirnya menyerah pada bulan September 1914. Ketika Angkatan Laut Australia mengetahui ada kapal perang Jerman dengan nama Emden yang berada di sekitar  pulau Cocos di Samudra Hindia, maka kapal perang Australia bernama Sydney segera mengejarnya dan terjadilah pertempuran laut. Dalam pertempuran itu pasukan Jerman dapat dikalahkan. Pada awal perang banyak tentara Inggris yang gugur. Supaya superioritas sebagai penguasa lautan tidak hilang maka penguasa Inggris segera memobilisasi rakyatnya untuk menjadi serdadu termasuk meminta ke dominionya termasuk Australia. Dan Australia menyumbang 400.000 tentara yang dikirim ke medan perang di Timur Tengah dan Eropa untuk mendukung pasukan Inggris dan sekutu-sekutunya melawan Jerman, Austria, dan Turki.[2]

Ket. Gambar: Pertempuran laut  antara kapal perang  Australia yang bernama Sydney dengan kapal perang  Jerman yang bernama Emden di Samudra Hindia.

Pada tahun 1915 pasukan Inggris memutuskan untuk  menguasai  Selat Dardanella untuk membantu pasukan Rusia yang kewalahan menghadapi pasukan Jerman dan Turki. Pasukan gabungan Australia dan New Zealand dengan sebutan ANZAC (Australia and New Zealand Army  Corps), bersama dengan pasukan Inggris dan Perancis mendarat di Semenanjung Gallipoli, dan kemudian pasukan ini ditarik ke Mesir untuk mengamankan Terusan Suez.  Dan akhirnya Perang Dunia I diakhiri dengan perjanjian Versailles 1918.[3]

Ket. Gambar: Terusan Suez .

Ket. Gambar: Peta Perang Dunia I di Eropa

2. Keterlibatan Australia dalam PD II

Perang Dunia II, secara resmi mulai berkecamuk pada tanggal 1 September 1939 sampai tanggal 14 Agustus 1945. Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa perang sebenarnya sudah dimulai lebih awal, yaitu pada tanggal 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Sampai saat ini, perang ini adalah perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Kurang lebih 50.000.000 (lima puluh juta) orang tewas dalam konflik ini. Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 atau 15 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat.

Perang Dunia II berkecamuk di tiga Benua tua; yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Berikut ialah data pertempuran-pertempuran dan peristiwa penting di setiap berbagai medan diantaranya:

a.         Medan perang Asia Pasifik

Perang Sino-Jepang (1937-1945). Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sebelum pertikaian di Eropa. Jepang telah menginvasi Cina pada tahun 1931, jauh sebelum Perang Dunia II dimulai di Eropa. Pada 1 Maret 1937, Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi kaisar di Manchukuo, negara boneka bentukan Jepang di Manchuria 1937.[4]

Roosevelt menandatangani sebuah perintah eksekutif yang tidak diterbitkan (rahasia) pada Mei 1940 mengijinkan personil militer Amerika Serikat untuk mundur dari tugas, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam operasi terselubung di Cina sebagai “American Volunteer Group” (AVG), juga dikenal sebagai Harimau Terbang Chennault. Selama periode tujuh bulan, kelompok Harimau Terbang berhasil menghancurkan sekitar 600 pesawat Jepang, menenggelamkan sejumlah kapal Jepang, dan menghentikan invasi Jepang terhadap Burma. Dengan adanya tindakan Amerika Serikat dan negara lainnya yang memotong ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat mengembargo baja, maka Jepang merencanakan serangan terhadap Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 tanpa peringatan deklarasi perang; sehingga mengakibatkan kerusakan parah pada Armada Pasifik Amerika. Hari berikutnya, pasukan Jepang merebut Hongkong, kemudian menyebabkan Inggris menderita kekalahan. Pada tahun 1940 Inggris menyerah kepada Jepang, lalu Jepang menduduki Indocina Perancis (kini Vietnam) sesuai persetujuan dengan Pemerintahan Vichy meskipun secara lokal terdapat kekuatan Perancis Bebas (Free French), dan bergabung dengan kekuatan Poros Jerman dan Italia. Aksi ini menguatkan konflik Jepang dengan Amerika Serikat dan Inggris. [5]

Pada tanggal 7 Desember 1941 pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. Amerika Serikat dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang. Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara Amerika Serikat di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina, dan juga koloni-koloni Inggris di Malaya, Borneo dan Burma, dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Singapura yang menjadi pangkalan Inggris juga dikuasai oleh Jepang. [6]

Ket. Gambar: Serangan Jepang terhadap Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941.

Pada tahun 1942 Invasi Jepang terhadap Hindia Belanda diawali dengan serangan Jepang ke Labuan, Brunei, Singapura, Semenanjung Malaya, Palembang, Tarakan dan Balikpapan yang merupakan daerah-daerah sumber minyak. Jepang sengaja mengambil taktik tersebut sebagai taktik gurita yang bertujuan mengisolasi kekuatan Hindia Belanda dan Sekutunya yang tergabung dalam front ABDA (Amerika, Britania, Duth, Australia) yang berkedudukan di Bandung. Serangan-serangan itu mengakibatkan kehancuran pada armada laut ABDA khususnya Australia dan Belanda. Sejak peristiwa ini, Sekutu akhirnya memindahkan basis pertahanannya ke Australia.[7]

Ket. Gambar: Serangan Jepang terhadap Asia Pasifik.

Jepang mengadakan serangan laut besar-besaran ke Pulau Jawa pada bulan Februari-Maret 1942 dimana terjadi pertempuran Laut Jawa antara armada laut Jepang melawan armada gabungan yang dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman. Armada gabungan Sekutu kalah dan pimpinan pasukan Karel Doorman gugur. Jepang menyerbu Batavia (Jakarta) yang akhirnya dinyatakan sebagai kota terbuka, kemudian terus menembus Subang dan berhasil menembus garis pertahanan Lembang Ciater, kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan Hindia Belanda terancam. Sementara di front Jawa Timur, tentara Jepang berhasil menyerang Surabaya sehingga kekuatan Belanda ditarik sampai garis pertahanan di Porong. Terancamnya kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan dan pengungsian membuat panglima Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten mengambil inisiatif mengadakan perdamaian. Kemudian diadakannya perundingan antara tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura dengan pihak Belanda yang diwakili Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Dan Belanda menyerahkan kota Bandung dengan mengadakan kapitulasi atau penyerahan kekuasaan Hindia Belanda kepada pihak Jepang di Subang Jawa Barat. Dan pemerintah kerajaan Belanda memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda di Australia di bawah pimpinan Van Mook. Kesuksesan Jepang tidak lepas dari peran Laksamana Kurita yang menjalankan taktik Gurita (mengepung Pulau Jawa: benteng Sekutu terakhir di Pasifik Barat).[8]

Pada tahun 1942 Jepang melakukan serangan terhadap: Laut Coral.
Pada Mei 1942, serangan laut terhadap Port Moresby, Midway,  Guadalcana, Papua Nugini digagalkan oleh pasukan Sekutu dalam Perang Laut Coral. Kalau saja penguasaan Port Moresby berhasil, Angkatan Laut Jepang dapat juga menyerang Australia. Ini merupakan perlawanan pertama yang berhasil terhadap rencana Jepang dan pertempuran laut pertama yang hanya menggunakan kapal induk. Sebulan kemudian invasi Atol Midway dapat dicegah dengan terpecahnya pesan rahasia Jepang, menyebabkan pemimpin Angkatan Laut Amerika Serikat mengetahui target berikut Jepang yaitu Atol Midway.[9]

Pertempuran ini menyebabkan Jepang kehilangan empat kapal induk dan industri pertahanan Jepang tidak dapat menggantikannya, Sementara Angkatan Laut Amerika Serikat kehilangan satu kapal induk. Kemenangan besar Angkatan Laut Amerika Serikat ini menyebabkan pendaratan pasukan Sekutu di Pasifik. Namun dalam bulan Juli 1942 penyerangan darat terhadap Port Moresby dijalankan melalui Track Kokoda yang kasar. Di sini pasukan Jepang bertemu dengan pasukan cadangan Australia, banyak dari mereka masih muda dan tak terlatih menjalankan aksi perang dengan keras kepala menjaga garis belakang sampai tibanya pasukan reguler Australia yang baru datang dari Afrika Utara, Yunan, dan Timur Tengah, serta medan perang Eropa.

Ket.  Gambar: Pasukan regular Australia dalam pertempuran di  Track Kokoda

Para pemimpin Sekutu telah setuju mengalahkan Nazi Jerman adalah prioritas utama masuknya Amerika ke dalam perang. Dan pasukan Amerika Serikat Australia, Belanda mulai menyerang wilayah Pasifik Selatan, mulai dari Pulau Guadalcanal, melawan tentara Jepang yang berjuang mati-matian. Pada 7 Agustus 1942 pulau tersebut diserang oleh Amerika Serikat. Pada akhir Agustus dan awal September, selagi perang berkecamuk di Guadalcanal, sebuah serangan amfibi Jepang di Timur New Guinea dihadapi oleh pasukan Australia dalam Teluk Milne, dan pasukan darat Jepang menderita kekalahan dengan korban yang besar. Di Guadalcanal, pertahanan Jepang runtuh.[10]

Peta: Guadalcanal.

Ket. Gambar: Kapal induk Hornet (Amerika Amerikat)          .

Pada tahun 1943-1945 terjadi serangan pasukan Sekutu di Asia Pasifik pasukan Australia dan Amerika Serikat melancarkan kampanye yang panjang untuk merebut kembali wilayah yang diduduki oleh Pasukan Jepang di Kepulauan Solomon, New Guinea dan Hindia Belanda, dan mengalami beberapa perlawanan paling sengit selama perang. Seluruh kepulauan Solomon direbut kembali pada tahun 1943, New Britain dan New Irland pada tahun 1944. Pada saat Filipina sedang direbut kembali pada akhir tahun 1944, Pertempuran Teluk Leyte berkecamuk, yang disebut sebagai perang laut terbesar sepanjang sejarah adapun pimpinan pasukan sekutu adalah Jendral Douglas MacArtur.

Pada tanggal 25 Oktober terjadi penyerangan Kamikaze di Mindanao Selatan dan mengakibatkan tiga kapal induk pengawal Amerika Serikat rusak. Serangan besar terakhir di area Pasifik Barat Daya adalah kampanye Borneo pertengahan tahun 1945, yang ditujukkan untuk mengucilkan sisa-sisa tentara yang masih bertahan di Asia Tenggara, dan membebaskan tawanan perang yang ditawan oleh Jepang. Kapal selam dan pesawat-pesawat Sekutu juga menyerang kapal dagang Jepang, yang menyebabkan industri di Jepang kekurangan bahan baku. Bahan baku industri sendiri merupakan salah satu alasan Jepang memulai perang di Asia. Keadaan ini semakin efektif setelah Marinir Amerika Serikat dan serdadu gabungan dari Australia dan Belanda merebut pulau-pulau yang lebih dekat dengan kepulauan Jepang.

Ket. Gambar: Serangan balik Sekutu terhadap Jepang.

Tentara Nasionalis Cina (Kuomintang) dibawah pimpinan Chiang Kai-shek dan Tentara Komunis Cina dibawah Mao Zedong, keduanya sama-sama menentang pendudukkan Jepang terhadap Cina, tetapi tidak pernah benar-benar bersekutu untuk melawan Jepang.

Pasukan Jepang telah merebut sebagian dari Burma, memutuskan jalan Burma yang digunakan oleh Sekutu untuk memasok Tentara Nasionalis Cina. Hal ini menyebabkan Sekutu harus menyusun suatu logistik udara berkelanjutan yang besar, yang lebih dikenal sebagai “flying the Hump”. Divisi-divisi Cina yang dipimpin dan dilatih oleh Amerika Serikat, satu divisi Inggris, Australia dan beberapa ribu tentara Amerika Serikat, membersihkan Burma Utara dari pasukan Jepang sehingga Jalan Ledo dapat dibangun untuk menggantikan Jalan Burma. Lebih ke Selatan, induk dari tentara Jepang di kawasan perang ini berperang sampai terhenti di perbatasan Burma-India oleh tentara ke-14 Inggris yang dikenal sebagai “Forgotten Army”, yang dipimpin oleh Mayor Jendral Wingate yang kemudian melancarkan serangan balik dan berhasil dengan taktik gerilyanya yang terkenal dan bahkan dijadikan acuan bagi tentara dan Pejuang Indonesia pada tahun 1945-1949. Setelah merebut kembali seluruh Burma, serangan direncanakan ke semenanjung Malaya.

Pada pertengahan tahun 1945 perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan Sekutu  pimpinan Amerika  Serikat menyebabkan kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Di antara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat pada masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif telah  membuat kehancuran dalam kota tersebut. Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, seperti yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945, bomber B-29 “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney dari Skuadron Angkatan Udara Amerika Serikat  melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki. Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan baru Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun sebenarnya Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang sampai tanggal 8 Agustus 1945, setelah bom atom pertama dilepaskan. Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri.

Ket. Gambar: Pengeboman pasukan Sekutu terhadap pertahanan Jepang

b.      Medan Perang Afrika dan Timur Tengah

Pertempuran di Afrika Utara bermula pada 1940, ketika sejumlah kecil pasukan Inggris  dengan bantuan serdadu dari Australia di Mesir memukul balik serangan pasukan Italia dari Libya yang bertujuan untuk merebut Mesir terutama Terusan Suez yang vital. Tentara Inggris, India, dan Australia melancarkan serangan balik dengan sandi Operasi Kompas (Operation Compass).

Pada Juni 1941 Angkatan Darat Australia dan pasukan Sekutu menginvasi Suriah dan Libanon, merebut Damaskus pada 17 Juni 1941. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang pro-Nazi. Pemberontakan didukung oleh Mufti Besar Yerusalem, Haji Amin al-Husseini. Oleh karena merasa garis belakangnya terancam, Inggris mendatangkan bala bantuan dari India dan menduduki Irak. Pemerintahan pro-Inggris kembali berkuasa, sementara Rashid Ali dan Mufti Besar Yerusalem melarikan diri ke Iran. Namun kemudian Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran serta menggulingkan Shah Iran yang pro-Jerman.

Korps Afrika di bawah Rommel melangkah maju dengan cepat ke arah Timur, merebut kota pelabuhan Tobruk. Pasukan Australia dan Inggris di kota tersebut berhasil bertahan hingga serangan Axis berhasil merebut kota tersebut dan memaksa Divisi Ke-8 (Eighth Army) mundur ke garis di El Alamein. Pertempuran El Alamein Pertama terjadi di antara 1 Juli dan 27 Juli 1942. Pasukan Jerman sudah maju ke yang titik pertahanan terakhir sebelum Alexandria dan Terusan Suez. Namun mereka telah kehabisan suplai, dan pertahanan Inggris dan Persemakmuran menghentikan arah mereka. Pertempuran El Alamein kedua terjadi antara 23 Oktober dan 3 November 1942 sesudah Bernard Montgomery menggantikan Claude Auchinleck sebagai komandan Eighth Army. Rommel, panglima cemerlang Korps Afrika Tentara Jerman, yang dikenal sebagai “Rubah Gurun”, absen pada pertempuran luar biasa ini, karena sedang berada dalam tahap penyembuhan dari sakit kuning di Eropa. Montgomery tahu Rommel absen.

Pasukan Inggris dan Australia melancarkan serangan, dan meskipun mereka kehilangan lebih banyak tank daripada Jerman ketika memulai pertempuran. Sekutu mempunyai keuntungan dengan dekatnya mereka ke suplai mereka selama pertempuran. Lagi pula, Rommel hanya mendapat sedikit atau bahkan tak ada pertolongan kali ini dari Luftwaffe, yang sekarang lebih ditugaskan dengan membela Angkatan Udara Eropa Barat dan melawan Uni Soviet daripada menyediakan bantuan di Afrika Utara untuk Rommel. Setelah kekalahan Jerman di El Alamein, Rommel membuat penarikan strategis yang cemerlang.

c.       Medan perang Eropa

Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa dengan dimulainya serangan ke Polandia pada 1 September 1939 yang dilakukan oleh Hitler dengan gerak cepat yang dikenal dengan taktik Blitzkrieg, dengan memanfaatkan musim panas yang menyebabkan perbatasan sungai dan rawa-rawa di wilayah Polandia kering yang memudahkan gerak laju pasukan lapis baja Jerman serta mengerahkan ratusan pembom tukik yang terkenal Ju-87 Stuka. Polandia yang sebelumnya pernah menahan Uni Soviet di tahun 1920-an saat itu tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Kekurangan pasukan lapis baja, kekurang siapan pasukan garis belakang dan koordinasinya dan lemahnya Angkatan Udara Polandia menyebabkan Polandia sukar memberi perlawanan meskipun masih memiliki 100 pesawat tempur namun jumlah itu tidak berarti melawan Angkatan Udara Jerman “Luftwaffe”. Perancis dan kerajaan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 3 September sebagai komitmen mereka terhadap Polandia pada pakta pertahanan Maret 1939.

Setelah mengalami kehancuran disana sini oleh pasukan Nazi, tiba tiba Polandia dikejutkan oleh serangan Uni Soviet pada 17 September dari timur yang akhirnya bertemu dengan Pasukan Jerman dan mengadakan garis demarkasi sesuai persetujuan antara Menteri Luar Negeri keduanya, Ribentrop-Molotov. Akhirnya Polandia menyerah kepada Nazi Jerman setelah kota Warsawa jatuh.

Ket. Gambar: Peta Eropa pada Perang Dunia II

Jatuhnya Polandia dan terlambatnya pasukan Sekutu yang saat itu dimotori oleh Inggris dan Perancis yang berada dibawah komando Jenderal Gamelin dari Perancis membuat Sekutu akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman. Namun juga menyebabkan jatuhnya kabinet Neville Chamberlain di Inggris yang digantikan oleh Winston Churchill. Ketika Hitler menyatakan perang terhadap Uni Soviet, Uni Soviet akhirnya membebaskan tawanan perang Polandia dan mempersenjatainya untuk melawan Jerman.

Perang Musim Dingin dimulai dengan invasi Finlandia oleh Uni Soviet, 30 November 1939. Pada awalnya Finlandia mampu menahan pasukan Uni Soviet meskipun pasukan Soviet memiliki jumlah besar serta dukungan dari armada udara dan lapis baja, karena Soviet banyak kehilangan jendral-jendral yang cakap akibat pembersihan yang dilakukan oleh Stalin pada saat memegang tampuk kekuasaan menggantikan Lenin. Finlandia memberikan perlawanan yang gigih yang dipimpin oleh Baron Carl Gustav von Mannerheim serta rakyat Finlandia yang tidak ingin dijajah. Bantuan senjata mengalir dari negara Barat terutama dari tetangganya Swedia yang memilih netral dalam peperangan itu. Pasukan Finlandia memanfaatkan musim dingin yang beku namun dapat bergerak lincah meskipun kekuatannya sedikit (kurang lebih 300.000 pasukan). Akhirnya Soviet mengerahkan serangan besar besaran dengan 3.000.000 tentara menyerbu Finlandia dan berhasil merebut kota-kota dan beberapa wilayah Finlandia. Sehingga memaksa Carl Gustav untuk mengadakan perjanjian perdamaian. Ketika Hitler menyerang Rusia (Uni Soviet), Hitler juga memanfaatkan pejuang-pejuang Finlandia untuk melakukan serangan ke kota St. Petersburg Uni Soviet.

Perang Dunia II di Eropa. Merah adalah Sekutu atau penguasaannya, Biru adalah Axis atau penguasaannya, dan Hijau adalah Uni Soviet sebelum bergabung dengan Sekutu tahun 1941. Dengan tiba-tiba Jerman menyerang Denmark dan Norwegia pada 9 April 1940 melalui Operasi Weserübung, yang terlihat untuk mencegah serangan Sekutu melalui wilayah tersebut. Pasukan Inggris, Perancis, dan Polandia mendarat di Namsos, Andalsnes, dan Narvik untuk membantu Norwegia. Pada awal Juni, semua tentara Sekutu dievakuasi dan Norwegia-pun menyerah.

Operasi Fall Gelb, invasi Benelux dan Perancis, dilakukan oleh Jerman pada 10 Mei 1940, mengakhiri apa yang disebut dengan “Perang Pura-Pura” (Phony War) dan memulai Pertempuran Perancis. Pada tahap awal invasi, tentara Jerman menyerang Belgia, Belanda, dan Luxemburg untuk dan berhasil memecah pasukan Sekutu dengan melaju sampai ke Selat Inggris. Negara-negara Benelux dengan cepat jatuh ke tangan Jerman, yang kemudian melanjutkan tahap berikutnya dengan menyerang Perancis. Pasukan Ekspedisi Inggris (British Expeditionary Force) yang terperangkap di utara kemudian dievakuasi melalui Dunkirk dengan Operasi Dinamo. Tentara Jerman tidak terbendung sampai ke pantai Atlantik, menyebabkan Perancis mendeklarasikan gencatan senjata pada 22 Juni dan terbentuklah pemerintahan boneka Vichy.

Ket. Gambar: Pertahanan pasukan Sekutu di Perancis.

Pada Juni 1940, Uni Soviet memasuki Latvia, Lituania, dan Estonia serta menganeksasi Bessarabia dan Bukovina Utara dari Rumania.
Jerman bersiap untuk melancarkan serangan ke Inggris dan dimulailah apa yang disebut dengan Pertempuran Inggris atau Battle of Britain, perang udara antara AU Jerman Luftwaffe melawan AU Inggris Royal Air Force pada tahun 1940 memperebutkan kontrol atas angkasa Inggris. Jerman berhasil dikalahkan dan membatalkan Operasi Singa Laut atau Seelowe untuk menginvasi daratan Inggris. Hal itu dikarenakan perubahan strategi Luftwaffe dari menyerang landasan udara dan industri perang berubah menjadi serangan besar-besaran pesawat pembom ke London. Sebelumnya terjadi pemboman kota Berlin yang ddasarkan pembalasan atas ketidaksengajaan pesawat pembom Jerman yang menyerang London. Perang juga berkecamuk di laut, pada Pertempuran Atlantik kapal-kapal selam Jerman (U-Boat) berusaha untuk menenggelamkan kapal dagang yang membawa suplai kebutuhan ke Inggris dari Amerika Serikat.

Pada 27 September 1940, ditanda tanganilah pakta tripartit oleh Jerman, Italia, dan Jepang yang secara formal membentuk persekutuan dengan nama (Kekuatan Poros). Italia menyerbu Yunani pada 28 Oktober 1940 melalui Albania, tetapi dapat ditahan oleh pasukan Yunani yang bahkan menyerang balik ke Albania. Hitler kemudian mengirim tentara untuk membantu Mussolini berperang melawan Yunani. Pertempuran juga meluas hingga wilayah yang dikenal sebagai wilayah bekas Yugoslavia. Pasukan NAZI mendapat dukungan dari sebagian Kroasia dan Bosnia, yang merupakan konflik laten di daerah itu sepeninggal Kerajaan Ottoman. Namun Pasukan Nazi mendapat perlawanan hebat dari kaum Nasionalis yang didominasi oleh Serbia dan beberapa etnis lainnya yang dipimpin oleh Josip Broz Tito. Pertempuran dengan kaum Nazi merupakan salah satu bibit pertempuran antar etnis di wilayah bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.

Pada akhir bulan April 1945, ibukota Jerman yaitu Berlin sudah dikepung oleh Uni Soviet dan pada tanggal 1 Mei 1945 Hitler bunuh diri. Pada tanggal 2 Mei 1945, Karl Dönitz diangkat menjadi pemimpin menggantikan Adolf Hitler dan menyerah kepada sekutu. Disusul Pasukan Jerman di Italia yang menyerah pada tanggal 2 Mei 1945 juga. Pasukan Jerman di wilayah Jerman Utara, Denmark dan Belanda menyerah tanggal 4 Mei 1945. Sisa pasukan Jerman dibawah pimpinan Alfred Jodl menyerah tanggal 7 mei 1945 di Rheims, Perancis. Tanggal 8 Mei 1945, penduduk di negara-negara sekutu merayakan hari kemenangan, tetapi Uni Soviet merayakan hari kemenangan pada tanggal 9 Mei 1945 dengan tujuan politik.

Ket. Gambar: Penyerangan terhadap Jerman oleh Sekutu.

c. Dampak Keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II

1. Dampak positif  keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II

Ø  Dalam bidang militer

  • Perang Dunia I dan Perang Dunia II menimbulkan dampak yang signifikan terhadap Australia yaitu Australia mempunyai pengalaman dalam perang.
  • Australia sangat memperhatikan sistem pertahanan nasionalnya dari kemungkinan segala hal yang mengancam stabilitas negaranya.
  • Hubungan Amerika Serikat-Autralia tidak hanya sekedar muncul di atas kertas tetapi juga muncul di lapangan. Dengan bukti membentuk Joint Declaration dimana Amerika Serikat dan Australia mengikat komitmen untuk bekerjasama dalam operasi militer internasional. Hal ini berarti ADF (Australian Defence Force) tidak hanya bebas berlatih dengan perlengkapan militer terbaik di dunia tetapi juga berpartisipasi dalam operasi-operasi perdamaian PBB pada masa Perang Teluk dan Timor-Timur, yang semuanya tentu saja dibiayai oleh Amerika Serikat.  Hal ini mengangkat prestise Australia di mata dunia.[11]

Ø  Dalam bidang sosial

  • Mentalitas orang Australia sangat tinggi karena bangga telah memenangkan perang (Perang Dunia I dan Perang Dunia II).
  • Dari pengalaman ini muncul salah satu nilai Australia yang paling abadi: jiwa Anzac yaitu: keberanian, semangat dan ‘mateship’ (pertemanan).

Ø  Dalam bidang politik

  • Dari keterlibatan Australia dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II mempunyai dampak yang sangat besar dan mempunyai arti yang lebih bagi perkembangan Australia. Australia mendapat hikmah dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II yaitu Australia tidak sepenuhnya bisa bergantung pada Inggris, karena dalam Perang Dunia II Amerika Serikat banyak menolong negeri Kangguru ini. Dan Australia menjadi sekutu dekat Amerika Serikat dan memainkan peranan yang cukup penting dalam percaturan politik internasional dewasa ini.
  • Pada perkembangan selanjutnya Australia sejak 1935 telah memiliki departemen luar negeri dan dalam percaturan politik internasional Australia menjadi diperhitungkan karena sebagai pihak yang menang dalam perang. Kini Australia menjadi Sekutu yang loyal terhadap Amerika Serikat.
  • Dalam konstitusi Australia mengadopsi sistem politik pemerintahan Amerika Serikat yaitu adanya majelis tinggi (senat) dan majelis rendah (House of reflersentative), mengalokasikan kekuasaan antara pemerintah negara bagian dan pemerintahan federal, memiliki sebuah pengadilan tinggi yang dapat meninjau kekonstitusionalan perundang-undangan negara bagian dan federal.[12]

2. Dampak negatif keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II

Ø  Dalam bidang militer

  • Ketergantungan Australia akan peralatan militer Amerika Serikat berarti bahwa ADF (Australian Defence Force) tidak bisa melaksanakan operasi militer terkecil pun tanpa bantuan perlengkapan dan logistik dari Amerika Serikat. Hal ini membuat Amerika Serikat mampu mendikte kepentingan militer Australia.
  • Biaya pembelian teknologi militer Amerika Serikat yang semakin lama semakin tinggi akibat semakin turunnya nilai tukar dolar Australia terhadap dolar Amerika Serikat berdampak negatif bagi interoperability Amerika Serikat-Australia.
  • Kebijakan struktur militer Australia dapat diselewengkan untuk menjaga hubungan baik Amerika Serikat-Australia.

Ø  Dalam bidang sosial

  • Berkurangnya jumlah penduduk: Pada tahun 1914 total populasi Australia kira-kira 4,5 juta dan oleh karena itu populasi pria mungkin sekali kurang dari tiga juta; meskipun begitu 417.000 pria Australia dengan sukarela bersedia bertempur dalam perang dan lebih dari 330.000 pria Australia sungguh-sungguh melakukannya. Sekitar 60.000 tewas dan lebih dari 152.000 terluka pada saat perang berakhir pada tahun 1918.
  • Pengangguran meningkat dengan drastis pada tahun 1933 hampir sepertiga tenaga kerja menganggur dan pendapatan nasional menurun dengan tajam.

Ø  Dalam bidang ekonomi

  • Pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II ditandai oleh ketidakstabilan ekonomi, khususnya selama masa depresi ekonomi berat, ketika banyak lembaga keuangan Australia gagal. Turunnya harga wol dan gandum yang tajam (ekspor utama Australia), penarikan modal Inggris dan jatuhnya harga barang ekspor lainnya sehingga memicu krisis keuangan yang hebat.[13]

Ø  Dalam bidang politik

  • Antara partai buruh dan partai liberal terjadi pertentangan terhadap kebijakan yang diambil oleh penguasa yang akan mempengaruhi pemerintahan karena partai yang berkuasa bisa dikalahkan oleh partai oposisi, akan tetapi partai yang berkuasa justru akan semakin kuat poosisinya. Hal ini sangat jelas ketika perdana menteri John Howard pada bulan Maret 2003 ikut bergabung dengan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat untuk menyerang Irak dalam rangka menggulingkan presiden Irak Saddam Hussein. Di dalam negeri John Howard mendapat tantangan keras dari pihak oposisi. Akan tetapi tekanan dari pihak dalam negeri perlu memperkuat kedudukannya dan popularitasnya menjadi naik dan beliau memenangkan pemilu akhir 2003 untuk periode kedua dalam  masa jabatannya. Dalam kebijakan politiknya John Howard mendapat tekanann dari Amerika Serikat, segala sesuatu yang diminta Amerika Serikat, Australia tidak bisa menolaknya karena adanya ketergantungan.

BAB III

KESIMPULAN

Keterlibatan Australia dalam Perang Dunia I adalah sebagai bentuk loyalitasnya terhadap Inggris karena secara militer, dan politik masih sangat bergantung pada pemerintah negara Inggris. Dari segi historis dan kultur penduduk Australia kebanyakan berasal dari Inggris dan masih menghormati mahkota Inggris. Pada waktu terjadi Perang Dunia I dan Perang Dunia II pasukan Australia dikirim ke medan perang di Eropa, Afrika, dan Asia untuk membantu pasukan Inggris melawan blok sentral pimpinan Jerman.

Perang Dunia II, secara resmi mulai berkecamuk pada tanggal 1 September 1939 sampai tanggal 14 Agustus 1945 Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa perang sebenarnya sudah dimulai lebih awal, yaitu pada tanggal 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Sampai saat ini, perang tersebut adalah perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Kurang lebih 50.000.000 (lima puluh juta) orang tewas dalam konflik ini. Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 atau 15 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat.

Keterlibatan Australia dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II telah memberi hikmah yang sangat besar bagi perkembangan Australia. Perang telah memberi pengalaman kepada Australia untuk tidak bergantung sepenuhnya kepada Inggris. Amerikat Serikat telah menjadi kiblat bagi Australia karena negara tersebut telah menolong banyak dalam Perang Dunia II. Dalam percaturan internasional Australia menjadi sekutu dekat Amerika Serikat.

DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Zulkifli. 1999. Sistem Politik Australia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ojong, P.K. 2001. Perang Pasifik. Jakarta: Buku Kompas.

Siboro, J. 1989. Sejarah Australia. Bandung: Tarsito

Soebantardjo. 1961. Sari Sejarah Asia-Australia. Jogjakarta: Bopkri.

www.australia.gov.au/govt-in-aust

http://www.defence.gov.au/whitepaper.

Jawaban Pertanyaan:

1.      Hendra: Apa dampak dalam bidang keamanan keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II?

Jawaban:

Dampak dalam bidang keamanan pada saat Australia ikut dalam Perang Dunia I adalah pada awal perang meletus ada ketakutan dari pihak Australia terhadap bahaya yang datang dari Utara yaitu Jepang. Akan tetapi Australia sedikit tenang karena ancaman dari Jepang tidak terbukti sebab Jepang memihak kepada Blok Sekutu. Dan stabilitas keamanan Australia tetap terjaga. Andai kata Jepang menyerang, tentu saja Australia akan mudah diduduki karena dari segi keamanan masih bergantung pada Inggris, dan Inggris pada waktu itu fokus menghadapi Jerman di Eropa.

Dampak dalam bidang keamanan pada saat Australia terlibat dalam Perang Dunia II adalah Australia menyadari akan stabilitas negaranya karena Australia tidak sepenuhnya bergantung pada Inggris, sebab dalam Perang Dunia II Australia banyak dibantu oleh Amerika Serikat dalam menghadapi Jepang di medan perang Asia Pasifik yang pada akhirnya di menangkan oleh pihak sekutu dan Jepang menderita kekalahan.

Pada perkembangan selanjutnya dalam bidang pertahanan dan keamanan Australia sangat bergantung pada Amerika Serikat, karena pengalaman dalam Perang Dunia II dan berkat bantuan dari Amerika Serikat yang telah berjasa besar dalam mengalahkan Jepang. Peristiwa tersebut  dapat dijadikan acuan dalam kebijakan militernya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pengadaan persenjataan dari berbagai jenis, misalnya: pesawat tempur, helikopter tempur, sistem radar, rudal patriot untuk menangkis serangan rudal, tank, kapal perang, yang semua didatangkan dari Amerika Serikat.

Sumber: http://www.defence.gov.au/whitepaper.

2.      Ellias: Peranan sentral Australia dalam PD I dan PD II?

Jawaban:

a.       Peran Australia dalam Perang Dunia I, yaitu:

Ø  Penyediaan personil tentara yang dikirimkan ke medan perang yang terjadi di Eropa untuk membantu pasukan kerajaan Inggris yang kewalahan dalam menghadapi pasukan Jerman

Ø  Angkatan Laut Australia yang didukung oleh 2.000 pasukan menghancurkan pasukan Jerman yang menduduki New Guinea

Ø  Ketika Angkatan Laut Australia mengetahui ada kapal perang Jerman dengan nama Emden yang berada di sekitar  pulau Cocos di Samudra Hindia, maka kapal perang Australia bernama Sydney segera mengejarnya dan terjadilah pertempuran laut.

Sumber: Siboro, J., Sejarah Australia, Bandung: Tarsito,  1989, hlm.176-177.

Ø  Australia menyumbang 400.000 tentara yang dikirim ke medan perang di Timur Tengah dan Eropa

Ø  Pasukan gabungan Australia dan New Zealand dengan sebutan ANZAC (Australia and New Zealand Army  Corps), bersama dengan pasukan Inggris dan Perancis mendarat di Semenanjung Gallipoli untuk memduduki Turki namun gagal, dan kemudian pasukan ini ditarik ke Mesir untuk mengamankan Terusan Zues.

Sumber: http://www.defence.gov.au/whitepaper.

b.      Peran Australia dalam Perang Dunia II

v  Medan perang Asia Pasifik

Ø  Bulan Juli 1942 penyerangan darat terhadap Port Moresby dijalankan melalui Track Kokoda yang kasar oleh tentara Australia yang masih muda kemudian dibantu oleh pasukan regular Sekutu.

Ø  Pada tahun 1943-1945 terjadi serangan pasukan Sekutu di Asia Pasifik  pasukan Australia dan Amerika Serikat di bawah komando Jenderal Mac. Arthur melancarkan kampanye yang panjang dengan strategi lompat katak untuk merebut kembali wilayah yang diduduki oleh Pasukan Jepang di Kepulauan Solomon, New Guinea, Hindia Belanda, dan menduduki kembali Filipina.

v  Medan perang Afrika dan Timur Tengah

Ø  Pada Juni 1941 Angkatan Darat Australia dan pasukan Sekutu menginvasi Suriah dan Libanon, merebut Damaskus pada tanggal 17 Juni 1941.

v  Medan perang Eropa

Peranan Australia dalam Perang Dunia II bergabung dengan pasukan Inggris melawan Jerman pada bulan Mei 1945 di Italia.

Sumber: http://www.defence.gov.au/whitepaper.

3.      Rika: Bagaimana cara menyatukan kedua partai dan mengambil kebijakan politik?

Dalam pengambilan kebijakan politik luar negeri antara partai Liberal dan partai Buruh tidak bisa bersatu karena adanya perbedaan ideologis. Hal ini tercermin ketika Perdana Menteri John Howard dari partai Liberal mengambil kebijakkan untuk mengirimkan pasukan ke Irak pada tahun 2003 yang ditentang oleh partai Buruh akan tetapi kebijakannya tersebut justru mengangkat popularitas John Howard dalam pemilu 2004.

Sumber: Media Indonesia 7 April 2003.

4.      Lusi: Bagaimana usaha pemerintah untuk memulihkan sosial pasca PD I dan PD II?

Jawab: Pasca Perang Dunia I dan Perang Dunia II terjadi depresi ekonomi yang menimpa seluruh dunia termasuk di Australia yang tercermin dengann adanya pengangguran yang meningkat drastis dan menjadi masalah sosial yang harus ditanggulangi oleh pemerintahan Australia, maka pemerintah mengambil kebijakan untuk meminta bantuan kepada Amerika Serikat untuk menghidupkan sektor ekonomi yang bisa menolong rakyat untuk bekerja kembali sebagai pegawai buruh pabrik dan sektor publik lainnya.

Sumber: www.australia.gov.au/govt-in-aust.

Pasca Perang Dunia I dan Perang Dunia II jumlah penduduk Australia juga berkurang karena banyaknya tentara yang meninggal dalam perang maka untuk menambah jumlah penduduk pemerintah Australia menerima para imigran dari Eropa yang tidak mempunyai tempat tinggal dari kamp-kamp pengungsi hal ini ditempuh karena pertumbuhan penduduk di Australia perkembangannya lamban.

Sumber: Siboro, J., Sejarah Australia, Bandung: Tarsito,  1989, hlm.157.

5.      Waskito: Apa dampak keterlibatan Australia dalam PD I dan PD II bagi Indonesia?

Jawab: Dampak keterlibatan Australia dalam Perang Dunia I bagi Indonesia tidak begitu jelas atau bisa dibilang tidak ada karena pada waktu itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda yang dikuasai oleh kerajaan Belanda akan tetapi  pada waktu Perang Dunia II  dampak keterlibatan Australia sudah terlihat dengan jelas, yaitu bahwa Australia sudah mengetahui pada waktu tentara Australia ikut mendarat di Jawa bersama Inggris dan diboncengi NICA. Bahwa di Indonesia sedang terjadi perjuangan nasional untuk mempertahankan kemerdekaannya. Pemerintah dan rakyat Australia memberikan rasa simpati dan dukungan terhadap Republik Indonesia yang baru lahir.

Sumber: Siboro, J., Sejarah Australia, Bandung: Tarsito,  1989, hlm. 183.

6.      Ika: Apa dampak perjanjian Versailles bagi Australia?

Jawab: Dampak perjanjian Versailles bagi Australia adalah bahwa eksitensi Australia dalam kancah internasional sudah  diakui hal ini terbukti bahwa Australia juga terlibat dalam penandatanganan perjanjian tersebut. Keterlibatan Australia ini akan membawa dampak yang besar bagi perkembangan hubunganan luar negeri Australia selanjutnya, karena Australia sudah dapat sejajar dengan negara-negara lain yang sudah lama berdiri.

Sumber: Siboro, J., Sejarah Australia, Bandung: Tarsito,  1989, hlm. 177.

7.      Alpian:

a.       Bagaimana perkembangan politik luar negeri Australia pasca Perang Dunia I dan Perang Dunia II ?

Jawab: Perkembangan politik luar negeri Australia pasca Perang Dunia I dan Perang Dunia II dalam hubungan internasional memainkan peranan yang cukup penting dalam percaturan politik internasional hal ini terbukti dengan keterlibatan Australia dam pembentukan Colombo Plan pada tahun 1950, untuk membantu negara-negara berkembang di Asia Selatan dan Asia Tenggara dalam bidang Ekonomi.

Sumber: Siboro, J., Sejarah Australia, Bandung: Tarsito,  1989, hlm. 181.

b.      Apakah ada sumbangan dalam hubungan internasional tersebut bagi Amerika Serikat?

Jawab: Australia menjadi sekutu dekat bagi Amerika Serikat hal ini terbukti  dalam keterlibatan Australia pada perang Vietnam dan invansi ke  Irak disamping itu Australia juga mendukung Amerika Serikat dalam sidang umum PBB dalam menentukan kebijakkan masyarakat internasional. Australia juga sebagai penyumbang utama pemasukan devisa Amerika Serikat karena Australia banyak membeli peralatan militer dari Amerika serikat. Sumber: www.australia.gov.au/govt-in-aust


[1] Siboro, J. 1989. Sejarah Australia. Bandung: Tarsito.

[2] http://www.defence.gov.au/whitepaper.

[3] ibid.

[4]Idem.

[5] ibid.

[6] Ojong, P.K., Perang Pasifik, Jakarta: Buku Kompas, 2001,1.

[7] Ibid.hlm.11.

[8] http://www.defence.gov.au/whitepaper.

[9] Idem.

[10] Ibid.

[11] http://www.defence.gov.au/whitepaper.

[12] Zulkifli Hamid, Sistem Politik Australia, PT Remaja Rosdakarya Bandung, 1999, hlm. 8 dan 39.

[13] www.australia.gov.au/govt-in-aust

About antosenno

mandiri. senang touring View all posts by antosenno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: